367 PESERTA PADATI SEMINAR HAJI & UMRAH KBIHU NURUL HUDA AL-FAUZAN DI MILAD KE-35 PONPES NURUL HUDA KERTAWANGUNAN
Nurul Huda – Sebanyak 367 peserta memadati Ballroom Hotel Grand Cordela, Kuningan, Jawa Barat, Ahad (24/8), dalam Seminar Haji & Umrah yang digelar oleh Kelompok Bimbingan Ibadah Haji & Umroh (KBIHU) Nurul Huda Al-Fauzan. Kegiatan ini merupakan rangkaian peringatan Milad ke-35 Pondok Pesantren Nurul Huda Kertawangunan.
Acara ini menghadirkan tiga narasumber utama, yaitu KH. Abdul Syukur (Pimpinan Umum Pondok Pesantren Nurul Huda Kertawangunan), Dr. KH. Zaenurraafiq, M.Hum. (Penulis buku The Power of Ka’bah), dan KH. Muhamad Fahmi Fauzan, Lc., MA., M.Pd. (Ketua Yayasan Nurul Huda Kertawangunan). Para narasumber menekankan bahwa ibadah haji dan umrah tidak hanya dipahami sebagai ritual manasik, tetapi juga sebagai perjalanan spiritual yang menuntut kesiapan lahir dan batin.
Ketua KBIHU Nurul Huda Al-Fauzan, H. Muhamad Iftor Nawawi, S.H., M.M., menyampaikan bahwa seminar ini menjadi sarana memperdalam ilmu sekaligus memperkuat ikatan hati dengan Baitullah. “Kegiatan ini tidak sekadar memperluas pengetahuan manasik, tetapi juga menjadi sarana penguatan spiritual. Kami berharap lahir jamaah yang tidak hanya terampil melaksanakan ibadah haji dan umrah, tetapi juga memahami esensi dan hikmah di baliknya.” ujarnya.


Peserta yang terdiri dari calon jamaah haji dan umrah, alumni, wali santri, serta masyarakat umum tampak antusias mengikuti setiap sesi. Suasana berlangsung tertib dan khidmat, dengan banyak yang mencatat poin-poin penting sebagai persiapan menuju Tanah Suci.


Bagi Pondok Pesantren Nurul Huda Kertawangunan, kegiatan ini tidak sekadar agenda milad, tetapi juga bentuk komitmen pesantren dalam mencetak generasi muslim beriman, berilmu, dan berakhlak mulia. Seminar ini sekaligus menegaskan peran pesantren sebagai pusat pendidikan, pencerahan, dan penguatan spiritual di tengah masyarakat.
Dengan terselenggaranya seminar ini, Milad ke-35 Pondok Pesantren Nurul Huda Kertawangunan kian bermakna: bukan hanya sebagai penanda usia, melainkan momentum untuk memperkokoh kontribusi pesantren bagi umat dan bangsa.