MUHADOROH ILMIAH BERSAMA SYAIKH DR. MUHAMMAD DARWIS AS-SYAMI DARI DAMASKUS, SURIAH
Nurul Huda – Pondok Pesantren Nurul Huda Kertawangunan kembali menjadi tuan rumah kegiatan ilmiah keagamaan yang istimewa. Pada hari Jum’at, 3 Oktober 2025, para santri berkesempatan menghadiri muhadoroh ilmiah bersama Syaikh Dr. Muhammad Darwis As-Syami, seorang ulama yang berasal dari Damaskus, Suriah, dan kini mengajar di Perguruan Tinggi Agama Islam As-Syafi’i Cianjur.
Dalam penyampaiannya, Syaikh Darwis menekankan bahwa ilmu syari’ah merupakan ilmu yang paling agung di antara ilmu-ilmu lainnya, karena ilmu tersebut dipilih langsung oleh Allah untuk diajarkan kepada manusia termulia, yakni Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.
Beliau juga membantah anggapan bahwa belajar ilmu syari’ah dapat menyebabkan seseorang kesulitan dalam hal rezeki. “Apakah orang yang belajar ilmu syari’ah akan luput dari rezekinya? Tidak,” tegas beliau. Menurutnya, banyak ulama di negeri Syam yang awalnya hidup dalam kefakiran, namun setelah menuntaskan ilmu syari’ah, Allah membuka pintu-pintu rezeki bagi mereka.
Selain itu, beliau berpesan kepada para santri agar senantiasa semangat dalam menuntut ilmu. Beliau juga menceritakan sebuah kisah luar biasa yang terjadi di negerinya, Damaskus. Dalam kisah tersebut, ada seorang tukang gali kubur yang mendapat tugas menggali liang lahat untuk dua jenazah anak laki-laki. Setelah selesai menggali, ia meletakkan jasad anak pertama ke dalam kubur. Seketika, ia menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri bahwa kuburan anak tersebut menjadi luas, lalu datanglah malaikat yang berwujud manusia mengambil jasad anak itu. Sontak, tukang gali kubur itu terkejut dan jatuh pingsan.
Setelah beberapa menit, ia sadar kembali dan melanjutkan pemakaman anak kedua. Keajaiban yang sama terjadi, namun kali ini ia tidak pingsan. Merasa heran, ia segera berlari ke rumah keluarga anak-anak tersebut dan bertanya kepada ibunya. Awalnya sang ibu tidak mau menjawab dan menangis, namun akhirnya ia bercerita bahwa anak pertama adalah yang membiayai pendidikan adiknya yang sedang menuntut ilmu agama.
Mendengar kisah itu, tukang gali kubur tersebut tersentuh hatinya. Ia pun bergegas menuju sebuah pondok pesantren dengan niat untuk belajar. Ketika sampai, pengurus pondok berkata, “Kamu sudah tua, bagaimana kamu akan belajar di sini?” Namun dengan keyakinan dan tekad yang kuat, ia diterima untuk belajar. Akhirnya, tukang gali kubur itu belajar dengan sungguh-sungguh hingga menjadi seorang alim yang dihormati.
Syaikh Dr. Muhammad Darwis As-Syami menuturkan bahwa kisah ini beliau dapatkan dari gurunya, yang merupakan murid dari tukang gali kubur tersebut. Beliau juga mengungkapkan rasa senangnya karena para santri Nurul Huda sudah hafal Sholawat Sirojiyyah. Beliau berpesan agar para santri membaca Sholawat Sirojiyyah sebanyak 10 kali setiap hari, serta membiasakan diri membaca kitab Dalailul Khairat, yang berisi kumpulan sholawat kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.
Beliau menjelaskan bahwa kitab Dalailul Khairat memiliki rahasia dan keutamaan yang luar biasa. Di akhir acara, sebelum ditutup, beliau mengijazahkan kitab Dalailul Khairat kepada seluruh santri Pondok Pesantren Nurul Huda. Acara kemudian ditutup dengan doa bersama, penuh kekhusyukan dan rasa haru.
Ditulis oleh: Dimas Pramudya Sunardi
Editor : Tim Redaksi Pondok Pesantren Nurul Huda Kertawangunan