PONPES NURUL HUDA KERTAWANGUNAN GELAR KULIAH UMUM PENINGKATAN KUALITAS GURU DI ERA DIGITAL
Nurul Huda – Pondok Pesantren Nurul Huda Kertawangunan menggelar Kuliah Umum bertema “Peningkatan Kualitas Guru Ponpes Nurul Huda dalam Menghadapi Era Digital” pada Kamis, 28 Mei 2026, pukul 13.00 WIB, di Aula Lantai 2 Gedung Yayasan Al Fauzan, Kampus 2 Ponpes Nurul Huda Kertawangunan.
Kegiatan diawali dengan sambutan Ketua Yayasan Pondok Pesantren Nurul Huda Kertawangunan, KH. Muhamad Fahmi Fauzan, Lc., M.A., M.Pd.. Dalam sambutannya, beliau menekankan pentingnya peningkatan kualitas guru sebagai bagian dari kesiapan lembaga menghadapi perkembangan zaman dan tantangan pendidikan di era digital.
Acara inti menghadirkan Dr. Aan Rukmana, M.A., M.M. yang menyampaikan materi “Pendidikan Ketahanan Diri atau Resilience dalam Menghadapi Era Digital.” Dalam pemaparannya, Dr. Aan menjelaskan bahwa resilience atau daya tahan merupakan kemampuan mental seseorang untuk bangkit, beradaptasi, dan tetap tangguh ketika menghadapi tekanan, kesulitan, maupun perubahan.
“Daya tahan penting untuk membuat seseorang sukses. Daya tahan juga penting untuk membuat lembaga lebih maju,” ungkapnya.
Menurut Dr. Aan, daya tahan diri dapat dibangun dengan memiliki tujuan yang jelas, fokus pada hal yang dapat dikontrol, tidak mudah menyalahkan diri sendiri, berpikir positif, serta melihat tantangan sebagai bagian dari proses pertumbuhan. Ia juga menegaskan bahwa pendidikan tidak hanya bertujuan mencerdaskan pikiran, tetapi juga membentuk hati dan kepedulian.
“Hati pendidikan adalah pendidikan hati. Banyak orang pintar, tetapi tidak punya hati,” ujarnya.
Dalam menghadapi era Industri 4.0 dan Society 5.0, lembaga pendidikan dituntut untuk semakin melek teknologi, adaptif, dan mampu berpikir kritis. Guru juga perlu menguasai empat keterampilan kunci abad ke-21, yaitu berpikir kritis, komunikasi, kolaborasi, dan kreativitas.


Kegiatan ini dilanjutkan dengan sesi diskusi interaktif. Para peserta mengajukan berbagai pertanyaan seputar bonus demografi, kesiapan mahasiswa menghadapi kehidupan nyata, keterlibatan orang tua dalam pendidikan, portofolio santri, hingga pembinaan santri yang melakukan pelanggaran.
Dalam sesi tersebut, Dr. Aan menekankan pentingnya pembenahan mental, investasi serius di bidang pendidikan, keseimbangan antara aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik, serta pelibatan orang tua dalam proses pendidikan santri. Ia juga mendorong adanya portofolio santri sebagai dokumentasi perkembangan anak, mulai dari identitas, minat, cita-cita, kegiatan, hingga perkembangan akademik dan akhlaknya.
Terkait pembinaan santri, Dr. Aan mengingatkan bahwa pemberian hukuman perlu disertai pendampingan psikologis agar santri tetap merasa berharga dan memiliki kesempatan untuk berubah.
Melalui kuliah umum ini, Pondok Pesantren Nurul Huda Kertawangunan berharap para guru dan tenaga pendidik semakin siap menghadapi era digital dengan ketahanan diri, kemampuan berpikir kritis, kepedulian, serta semangat untuk terus belajar dan bertumbuh bersama lembaga.
Penulis dan Editor : Tim Redaksi Pondok Pesantren Nurul Huda Kertawangunan